Syarat Kenaikan Kelas dan Korbannya

Judul di atas sengaja dibuat seperti itu agar pengunjung tertarik membaca isinya, haha.

Sejak posting pertama, lama saya gak mengunjungi blog ini. Kepinginnya sih tiap hari bisa posting, tapi memang situasinya belum mengizinkan ya ada saja halangannya. Halangan yang utama bingung mau ngeposting apa? Saya kira blog guru indonesia akan menghapus akun saya. Ternyata tidak.

 

Pada postingan ini saya mau share pada pengunjung blog ini (harapan saya Bapak/Ibu guru) tentang syarat kenaikan kelas yang tidak dapat dipenuhi siswa atas sebab tertentu.

 

Masing-masing sekolah pasti telah menentukan syarat kenaikan kelas dan seharusnya dicantuman pada kurikulum yang sedang diberlakukan. Apa syaratnya? Terserah atau tergantung dari keputusan rapat di sekolah masing-masing yang penting tidak melintang dari BSNP.

Bagaimana jika seorang siswa tidak memenui syarat kenaikan kelas? Semua kita akan menjawab: “Ya, tinggal kelas dung!” Bagaimana jika syarat kenaikan kelas tersebut tidak terpenuhi atas sebab-sebab yang perlu dipertimbangkan?

 

Saya punya pengalaman menarik tentang syarat kenaikan kelas saat pertama saya diangkat menjadi guru. Kebetulan ditugaskan sebagai guru kelas 5. Adalah 3 orang siswa saya yang bernama, sebut saja Roni, Joni, dan Pije. Ketiganya tergolong siswa yang memiliki kecerdasan di bawah rata-rata. Kondisi atau keadaan fisik mereka biasa saja (normal). tetapi jika dibandingkan dengan teman sekelasnya, mereka tampak lebih besar. Tentulah, karena untuk sampai duduk di kelas 5 saja, mereka memerlukan waktu  8-9 tahun. Tapi ketiganya memiliki budi pekerti yang lumayan baik.

 

Beberapa orang tua/wali siswa yang selalu saya hubungi baik via surat atau bertemu langsung adalah orang tua/wali siswa si ketiga siswa yang saya anggap sedang menghadapi masalah serius. Saya memohon bantuan orang tua/wali siswa agar membantu dan membimbing anaknya saat belajar di rumah. Dan mereka meresponnya dengan baik.

 

Usai ujian semester 2 saya sempat ngomong-ngomong dengan ketiga siswa yang lamban itu. Saya sampaikan kepada mereka bahwa nilai hasil ujian semester 2 /kenaikan kelasnya sangat tidak memuaskan. Nilai setelah dirata-ratakan dari ulangan harian dan tugaspun jauh dari melepasi nilai KKM. Dengan kecerdasan yang mereka miliki, saya bisa memaklumi mengapa nilai mereka di bawah KKM. Masalahnya, layakkah mereka “dinaikkan” ke kelas 6?

 

Ketiga siswa saya pasrah. Cuma ada yang gak enak didengar. Mereka akan berhenti sekolah jika tidak naik ke kelas 6 (tinggal kelas). Alasannya malu dengan teman-temannya. Sebagai guru (baru), saya anggap mereka hanya pura-pura ngancam agar dinaikkan kelas.

 

Setelah melalui rapat dewan guru, memang  ketiganya “terpaksa” ditinggalkan di kelas 5. Seperti biasa selepas pembagian rapor, sekolah libur selama setengah bulan. Hari pertama sekolah di tahun ajaran baru, ketiga siswa saya yang tinggal kelas tidak muncul. Dengar kabar ketiganya berhenti sekolah. Gawat! Rupanya mereka benar-benar menepati ucapannya.

 

Saya merasa bersalah dan menyesal karena tidak menaikkan mereka ke kelas 6.

  • Mengapa mereka saya tinggalkan padahal dengan mudah saya bisa menaikkan mereka? Saya lebih memahami dan memaklumi keadaan mereka!
  • Apakah hanya karena mereka terpuruk pada angka akademik, hingga mengharuskan mereka mematuhi ketentuan kurikulum (syarat kenaikan kelas)?
  • Apa yang terjadi dengan mereka di luar sana?
  • Apakah masih ada lagi nantinya program pemerintah untuk paket A?

Pokoknya saya benar-benar tidak nyaman ketika itu. Hingga saya menyadari sebuah tamsil bahwa jika beberapa orang yang memasuki ruangan yang penuh buah-buahan sekalipun, tidak semuanya memilih apel atau jeruk atau yang lain. Yang mereka ambil berbeda-beda sesuai dengan kesukaan masing-masing (karateristik siswa). Mungkin mereka belum bertemu dengan guru dan sekolah yang paling sesuai dengan keterbatasan mereka. Sehingga apa yang dijelaskan dan diinginkan guru tidak semua bisa mereka pahami dan penuhi.

 

Kabar terakhir yang kudengar, mereka sudah bekerja. Si Roni ikut kapal nelayan, Joni bekerja ikut orang tuanya diperkebunan sawit, dan si Pije bekerja di restoran.  

Bapak/Ibu punya pengalaman menarik tentang kenaikan kelas dan syaratnya? Silahkan berbagi dengan kita dung! Atau apa tindakan yang akan dilakukan jika Bapak/Ibu guru mengalami hal yang sama dengan saya?

 


Komentar :

No Komen : 2
imran :: 16-12-2012 09:53:27
saya sangat sependapat dengan tamsil yang bapak berikan, metode kenaikan kelas menurut saya semestinya sudah ditiadakan.. ujian tersebut hanya sebatas untuk mengetahui tingkat keberhasilan metode/materi belajar bukan untuk memberi hukuman. saya pernah bertanya dengan guru ttg sistem pendidikan di jepang, apakah mereka mengenal naik/tinggal kelas, guru tersebut menjawab di jepang tidak ada sistim tersebut, ujian tetap ada dan apabila ditemukan kekurangan yang sangat mencolok.. maka guru bersangkutan wajib mendiskusikan hal tersebut dengan ortu/keluarga siswa bersangkutan dan mencari jalan keluar, contohnya: siswa tersebut mendapat jam khusus utk mapel yang kurang diluar jam sekolah.
 
No Komen : 1
surian :: 22-09-2012 21:08:29
Keputusan rapat dewan guru sudah tepat sebab jika ketiga anak tersebut dinaikan suatu saat akan menjadi standar anak-anak yang kecerdasannya normal ( standar ) jika nilai mereka juga dibawah kkm namun masih diatas ketiga anak tersebut, dan juga seharusnya ketiga anak tesebut lebih baik disekolahkan pada sekolah yang menangani siswa yang kecerdasannya dibawah standar, jika ada sekolah yang demikian.
 
Nama :
E-mail :
Web :
Komentar :
Masukkan kode pada gambar

    [Emoticon]